Resensi Buku : Helen dan Sukanta

Resensi Buku : Helen dan Sukanta

Di restoran Indonesia Lachende Javaan, Harleem, Belanda, tahun 2020, Nyonya Helen bercerita kepada saya tentang masa lalunya selama dia tinggal di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia.

”Saya lahir dan tumbuh di Ciwidey. Masa reaja saya, saya habiskan di Bandung, sampai kemudian Jepang datang pada tahun 1942 dan mengubah semuanya.”

Nyonya Helen kemudian menceritakan juga kisah asmara yang ia jalin bersama Sukanta, seorang pribumi. 

”Firasat saya benar, saya menyukai Sukanta. Itulah yang saya rasakan.”

Harus ada yang mengerti bagaimana Nyonya Helen merasakan semua kenangannya. Tidak ada yang tahu sudah berapa banyak rasa rindu menguasai dirinya sejak dia mengucapkan selamat tinggal kepada Indonesia.

”Nah, sekarang, diamlah. Ini cerita saya, dan semuanya benar-benar terjadi”

Berdasarkan judul dan sinopsis singkat Helen dan Sukanta tergambar bahwa alur kisah romance di masa sebelum kemerdekaan Indonesia yang akan menemani hari-hari para pembaca. Namun tak perlu khawatir, kisah-kisah yang disajikan bukan seperti cerita Roman pada masa 1930an. Kemampuan penulis menggambarkan kisah-kisah klasik zaman sebelum kemerdekaan membuat cerita ini masih tetap menyenangkan untuk dibaca pada masa modern sekarang ini. 

Cover buku yang bernuansa pastel menggambarkan gambaran klasik dari isi cerita. Namun tetap menarik pandangan mata dan rasa penasaran pembaca untuk memilih buku ini sebagai daftar bacaan.

Buku ini seolah membuka mata pembaca terhadap zaman penjajahan menjelang kemerdekaan yang mengerikan. Tak terlepas dari pembahasan rasis, perjuangan, sejarah, agama, budaya, sosial, dan lainnya.


Identitas buku :

Judul Buku : Helen dan Sukanta

Pengarang : Pidi Baiq

Penerbit : The Panasdalam Publishing

Tahun Terbit : 2019

Tebal Halaman : 362 hlm

Pinjam Buku

Posting Komentar

0 Komentar